Emisi gas rumah kaca telah menjadi salah satu isu lingkungan paling mendesak dalam beberapa dekade terakhir. Gas-gas seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrogen oksida (N2O) berperan penting dalam pemanasan global dan perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca berasal dari berbagai sumber, baik alami maupun antropogenik (hasil aktivitas manusia). Sumber alami termasuk respirasi organisme hidup, letusan gunung berapi, dan pelepasan metana dari rawa-rawa. Namun, emisi antropogenik telah meningkat secara signifikan akibat dari pembakaran bahan bakar fosil (seperti batu bara, minyak, dan gas alam), deforestasi, dan praktik pertanian tertentu. Tentunya akan berdampak pada lingkungan, kesehatan manusia, dan ekonomi.
Di sisi lain, tumbuhan memainkan peran vital dalam ekosistem bumi. Tumbuhan memiliki peran dalam siklus karbon global melalui proses fotosintesis, dimana tumbuhan akan menyerap CO2 dari atmosfer dan mengubahnya menjadi biomassa ini termasuk batang, daun, akar, dan jaringan kayu lainnya.. Proses ini tidak hanya membantu mengurangi konsentrasi CO2 di atmosfer tetapi juga menghasilkan oksigen yang esensial bagi kehidupan di bumi. Selain itu, tumbuhan tidak hanya menyerap CO2 selama fotosintesis tetapi ketika tumbuhan mati dan terurai, sebagian dari karbon ini kembali ke atmosfer sebagai CO2 dan sisanya akan disimpan dalam tanah sebagai bahan organik.